AMAZON LEO

Fast File Transfer

Unlimited Data

Trust Reliable Network

Guaranteed Bandwidth

AMAZON LEO

Jaringan Satelit Amazon Leo

Apa Itu Amazon Leo? Mengenal Internet Satelit LEO dari Amazon

Perkembangan teknologi internet satelit terus menarik perhatian industri telekomunikasi global. Setelah layanan satelit Low Earth Orbit (LEO) mulai menunjukkan kemampuan menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latency rendah, sejumlah perusahaan teknologi besar ikut membangun konstelasi satelitnya sendiri. Salah satunya adalah Amazon melalui Amazon Leo.

Amazon Leo merupakan jaringan satelit LEO milik Amazon yang dirancang untuk menyediakan akses internet cepat dan andal ke berbagai wilayah yang sulit mendapatkan konektivitas dari jaringan fiber optik, radio, maupun infrastruktur terestrial lainnya. Amazon menargetkan pengguna mulai dari rumah tangga dan usaha kecil hingga perusahaan besar serta instansi pemerintah.

Kehadiran Amazon Leo juga relevan bagi Indonesia. Wilayah geografis Indonesia yang luas dan terdiri atas ribuan pulau membuat kebutuhan konektivitas satelit tetap tinggi, khususnya untuk daerah terpencil, kepulauan, wilayah perbatasan, serta lokasi operasional industri yang jauh dari infrastruktur telekomunikasi.

Apa Itu Amazon Leo?

Amazon Leo adalah jaringan internet satelit yang menggunakan teknologi Low Earth Orbit atau LEO. Amazon mengembangkan jaringan ini dengan nama Project Kuiper sebelum mengganti nama proyek tersebut menjadi Amazon Leo pada 13 November 2025. Perusahaan Amazon merancang konstelasi awalnya dengan lebih dari 3.000 satelit LEO yang saling terhubung dengan jaringan gateway di darat. (Amazon News)

Teknologi LEO menempatkan satelit pada orbit yang jauh lebih dekat dengan permukaan Bumi daripada satelit geostasioner atau GEO. Amazon menempatkan satelitnya pada orbit sekitar 630 kilometer untuk ketinggian operasional. Jarak tersebut membantu jaringan LEO memberikan koneksi dengan latency lebih rendah untuk berbagai kebutuhan internet.

Dalam sistem Amazon Leo, satelit tidak bekerja sendiri. Amazon menghubungkan satelit dengan optical intersatellite links atau koneksi optik antarsatelit. Jaringan tersebut kemudian terhubung dengan gateway dan infrastruktur fiber di darat. Pengguna mengakses jaringan melalui terminal atau antena khusus yang berkomunikasi dengan satelit yang melintas di atas lokasi pengguna.

Arsitektur tersebut membuat Amazon Leo dapat menawarkan konektivitas ke lokasi yang tidak memiliki jaringan fiber atau jaringan terestrial memadai.

Mengapa Amazon Mengembangkan Jaringan Satelit LEO?

Amazon melihat masih banyak masyarakat dan sektor bisnis di berbagai negara yang belum memperoleh akses internet berkecepatan tinggi. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan, tetapi juga di lokasi industri, area pertambangan, fasilitas energi, kapal, serta lokasi operasional perusahaan yang jauh dari infrastruktur jaringan.

Pembangunan Amazon Leo bertujuan menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan jaringan broadband dari orbit rendah. Amazon menyebut layanan ini dirancang untuk pengguna individu, usaha kecil, perusahaan, serta sektor pemerintahan. (Amazon News)

Pendekatan ini menarik karena Amazon tidak hanya melihat internet satelit sebagai layanan untuk konsumen rumah tangga. Amazon juga mengembangkan kemampuan jaringan untuk kebutuhan enterprise dan pemerintahan.

Pada tahap enterprise preview, Amazon memperkenalkan fitur seperti private networking, dukungan koneksi ke AWS, serta integrasi dengan jaringan perusahaan. Amazon juga merancang layanan tersebut untuk mendukung aplikasi seperti pemrosesan data secara real-time, operasi jarak jauh, komunikasi aman, dan pengelolaan aset di lokasi terpencil. (Amazon News)

Bagaimana Cara Kerja Amazon Leo?

Secara sederhana, jaringan Amazon Leo terdiri atas tiga komponen utama, yaitu satelit LEO, gateway di darat, dan terminal pelanggan.

Satelit berfungsi membawa lalu lintas data dari pengguna menuju jaringan Amazon. Gateway menghubungkan jaringan satelit dengan jaringan internet, cloud, atau jaringan privat. Sementara itu, terminal pelanggan menangkap sinyal satelit dan menyediakan koneksi internet bagi perangkat pengguna.

Amazon menggunakan optical intersatellite links untuk menghubungkan satelit satu dengan satelit lainnya. Teknologi tersebut memungkinkan satelit membentuk jaringan di orbit sehingga sistem dapat meneruskan lalu lintas data melalui konstelasi sebelum mencapai gateway yang sesuai. (Amazon News)

Model seperti ini memberikan fleksibilitas bagi lokasi yang sulit mendapatkan jalur terrestrial. Perusahaan tidak harus menunggu pembangunan fiber optik hingga ke lokasi terpencil untuk mendapatkan konektivitas broadband.

Namun, layanan satelit tetap membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung komunikasi antara terminal dan satelit. Penempatan antena dengan pandangan langit yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam instalasi layanan internet LEO.

Terminal Amazon Leo

Amazon menyiapkan beberapa jenis terminal untuk kebutuhan pengguna yang berbeda. Saat ini Amazon memperkenalkan tiga model utama, yaitu Leo Nano, Leo Pro, dan Leo Ultra.

Leo Nano

Leo Nano merupakan terminal berukuran paling kecil dalam keluarga perangkat Amazon Leo. Amazon menyebut terminal berukuran sekitar 7 × 7 inci ini mampu menyediakan kecepatan download hingga 100 Mbps. Bentuknya yang ringkas membuat perangkat tersebut cocok untuk kebutuhan konektivitas dengan tuntutan kapasitas yang lebih ringan. (Amazon News)

Leo Pro

Leo Pro menawarkan kapasitas lebih tinggi daripada Nano. Amazon menyebut terminal berukuran sekitar 11 × 11 inci ini mampu menyediakan download hingga 400 Mbps. Perangkat ini menjadi salah satu pilihan untuk kebutuhan bisnis dan aplikasi yang membutuhkan koneksi lebih tinggi. (Amazon News)

Leo Ultra

Leo Ultra menjadi terminal dengan kemampuan tertinggi dalam lini awal Amazon Leo. Amazon menyebut perangkat ini mampu mencapai download hingga 1 Gbps dan upload hingga 400 Mbps.

Amazon merancang Leo Ultra untuk kebutuhan enterprise dan sektor publik yang membutuhkan kapasitas tinggi. Terminal ini menggunakan phased-array antenna serta teknologi pemrosesan sinyal yang Amazon kembangkan sendiri. Amazon juga menyiapkan kemampuan integrasi dengan jaringan perusahaan dan AWS. (Amazon News)

Kemampuan tersebut membuat Amazon Leo tidak hanya menarik untuk konektivitas internet biasa. Perusahaan dapat memanfaatkannya sebagai bagian dari arsitektur jaringan untuk lokasi remote, fasilitas industri, operasi energi, maupun kebutuhan komunikasi perusahaan.

Frekuensi yang Digunakan Amazon Leo

Teknologi satelit membutuhkan spektrum frekuensi radio untuk mengirimkan data antara terminal pelanggan, satelit, dan gateway di darat. Pada layanan broadband utamanya, Amazon Leo menggunakan Ka-band sebagai salah satu bagian penting dari sistem komunikasi satelitnya.

Dalam sistem Amazon Leo, komunikasi broadband antara terminal pelanggan dan satelit menggunakan frekuensi pada spektrum Ka-band. Sistem ini juga memanfaatkan Ka-band untuk koneksi berkapasitas tinggi antara jaringan satelit dan infrastruktur gateway di darat. Amazon melengkapi jaringan tersebut dengan optical inter-satellite links atau koneksi laser antarsatelit sehingga satelit dapat bertukar data secara langsung di orbit.

Secara umum, Ka-band berada pada rentang frekuensi yang lebih tinggi daripada Ku-band. Dalam referensi regulasi satelit FCC, Ka-band mencakup sejumlah rentang pada sekitar 17,7–20,2 GHz untuk arah space-to-Earth (downlink) dan 27,5–30 GHz untuk arah Earth-to-space (uplink). Namun, rentang tersebut merupakan kerangka spektrum Ka-band dan bukan berarti Amazon Leo menggunakan seluruh rentang tersebut secara seragam di setiap negara.

Dokumen FCC yang berkaitan dengan sistem Kuiper juga mencantumkan otorisasi operasi Amazon pada sejumlah bagian spektrum Ka-band, termasuk rentang 17,8–18,6 GHz, 18,8–20,2 GHz, dan 27,5–30 GHz, dengan ketentuan teknis dan koordinasi tertentu.

Karena layanan satelit bersifat lintas negara, penggunaan frekuensi tidak hanya mengikuti desain teknis operator. Amazon juga harus mengikuti aturan spektrum di setiap negara tempat Amazon Leo menyediakan layanan. Regulasi nasional, koordinasi dengan sistem satelit lain, batas daya pancar, serta ketentuan International Telecommunication Union (ITU) dapat memengaruhi penggunaan frekuensi pada wilayah tertentu. Bahkan FCC secara tegas menyatakan bahwa Kuiper wajib mematuhi hukum, regulasi, dan prosedur lisensi yang berlaku di negara tempat layanan diberikan.

Dengan demikian, Ka-band merupakan teknologi frekuensi utama yang relevan untuk memahami layanan broadband Amazon Leo, tetapi kita tidak dapat menganggap satu konfigurasi frekuensi akan berlaku secara identik untuk seluruh negara. Ketika Amazon Leo memasuki pasar Indonesia, implementasi frekuensinya tetap harus mengikuti ketentuan spektrum dan perizinan telekomunikasi yang berlaku di Indonesia.

Amazon Leo dan Frekuensi untuk Direct-to-Device

Penggunaan frekuensi pada Amazon Leo juga akan berkembang ketika Amazon mulai mengembangkan layanan Direct-to-Device (D2D). Layanan ini berbeda dari broadband satelit yang menggunakan terminal khusus seperti Leo Nano, Leo Pro, dan Leo Ultra.

Amazon telah mengajukan sistem D2D generasi berikutnya yang dirancang untuk menghubungkan satelit secara langsung dengan perangkat seluler. Sistem tersebut akan menggunakan L-band dan S-band untuk komunikasi antara satelit dan perangkat mobile. Sementara itu, koneksi antara satelit dan gateway menggunakan Ka-band dan V-band sebagai jalur backhaul berkapasitas tinggi. Amazon menargetkan deployment sistem D2D tersebut mulai 2028.

Artinya, pembahasan mengenai frekuensi Amazon Leo perlu membedakan dua layanan. Broadband LEO untuk terminal pelanggan menggunakan arsitektur Ka-band, sedangkan sistem D2D generasi berikutnya akan menggunakan kombinasi spektrum yang berbeda untuk menghubungkan satelit secara langsung dengan perangkat seluler.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Amazon Leo tidak bergantung pada satu teknologi frekuensi untuk seluruh jenis layanan. Amazon dapat menggunakan spektrum yang berbeda sesuai kebutuhan konektivitas, karakteristik perangkat, kapasitas jaringan, serta regulasi yang berlaku.

Bagi pengguna internet satelit, informasi mengenai frekuensi menjadi penting karena karakteristik setiap pita frekuensi memengaruhi desain antena, kapasitas jaringan, propagasi sinyal, serta kebutuhan teknis pada terminal pelanggan. Namun, pengguna tidak perlu menentukan frekuensi secara manual karena terminal Amazon Leo dirancang untuk menangani komunikasi dengan jaringan satelit secara otomatis.

Dengan pendekatan tersebut, Amazon Leo menggabungkan Ka-band untuk layanan broadband, optical links untuk komunikasi antarsatelit, serta spektrum lain untuk pengembangan layanan D2D. Kombinasi berbagai teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi Amazon untuk membangun jaringan LEO yang dapat melayani kebutuhan konsumen, perusahaan, pemerintahan, maritime, hingga berbagai lokasi remote di masa mendatang.

Perkembangan Ekspansi Amazon Leo

Perkembangan konstelasi menjadi salah satu aspek penting dalam melihat masa depan Amazon Leo. Amazon memulai full-scale deployment konstelasi pada April 2025. Sejak itu, Amazon menjalankan berbagai misi peluncuran menggunakan sejumlah roket dan operator peluncuran. (Amazon News)

Pada Juli 2026, Amazon melaporkan bahwa program tersebut telah menyelesaikan 14 misi dan meluncurkan lebih dari 375 satelit. Dalam pembaruan yang sama, Amazon menyebut peluncuran pada 2 Juli membawa 29 satelit tambahan dan membuat jumlah satelit yang telah ditempatkan ke orbit mencapai 396 unit. Amazon juga telah mengamankan lebih dari 100 misi peluncuran untuk mendukung pembangunan konstelasi. (Amazon News)

Amazon terus meningkatkan frekuensi peluncuran untuk memperluas cakupan dan kapasitas jaringan. Perusahaan menargetkan layanan Amazon Leo dapat menjangkau lebih banyak pengguna setelah jumlah satelit dan kapasitas jaringan terus bertambah.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Amazon tidak lagi berada pada tahap sekadar mengembangkan konsep internet satelit. Amazon telah memasuki tahap pembangunan konstelasi dan pengujian layanan secara nyata.

Amazon Leo Sudah Mulai Mengarah ke Pasar Enterprise

Salah satu hal yang menarik dari Amazon Leo adalah fokus Amazon terhadap pelanggan enterprise. Pada November 2025, Amazon memulai enterprise preview untuk sejumlah pelanggan bisnis menggunakan perangkat produksi dan perangkat lunak yang sudah disiapkan untuk layanan tersebut. (Amazon News)

Amazon menempatkan konektivitas remote sebagai salah satu target utama. Perusahaan membutuhkan internet untuk mengoperasikan fasilitas energi, pertambangan, manufaktur, logistik, pertanian, transportasi, dan berbagai aset lainnya yang tidak selalu berada di kawasan dengan jaringan terrestrial.

Amazon juga mengembangkan Direct to AWS dan Private Network Interconnect. Fitur tersebut memungkinkan perusahaan menghubungkan lokasi remote dengan lingkungan cloud atau jaringan privat perusahaan.

Bagi sektor korporasi dan instansi, kemampuan seperti ini memiliki nilai penting. Internet satelit tidak hanya berfungsi sebagai akses internet cadangan, tetapi dapat menjadi bagian dari desain jaringan utama untuk lokasi yang sulit mendapatkan konektivitas terrestrial.

Amazon Leo untuk Maritime dan Lokasi Remote

Potensi Amazon Leo juga terlihat pada sektor maritime. Pada Februari 2026, Amazon mengumumkan kerja sama dengan reseller pertama untuk layanan maritime, yaitu ELCOME dan MTN. Amazon menargetkan konektivitas untuk kapal komersial, offshore operation, serta berbagai aktivitas di perairan yang jauh dari jaringan terrestrial. (US Press Center)

Amazon menyebut Leo Pro dan Leo Ultra dapat digunakan untuk kebutuhan maritime. Leo Pro menawarkan download hingga 400 Mbps, sedangkan Leo Ultra mampu mencapai download hingga 1 Gbps dan upload hingga 400 Mbps. (US Press Center)

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Amazon Leo memiliki potensi pasar yang luas. Internet LEO dapat mendukung komunikasi kru, akses aplikasi perusahaan, pemantauan operasional, pengiriman data, hingga berbagai kebutuhan digital di lokasi yang sulit mendapatkan jaringan terrestrial.

Selain maritime, teknologi ini juga dapat mendukung lokasi pertambangan, perkebunan, proyek konstruksi, fasilitas energi, kantor cabang terpencil, serta lokasi tanggap darurat.

Perkembangan Amazon Leo di Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang menarik untuk perkembangan layanan satelit LEO. Faktor geografis menjadi alasan utama. Banyak wilayah Indonesia memiliki kondisi yang membuat pembangunan jaringan terrestrial membutuhkan biaya dan waktu yang besar.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital atau Kemkomdigi juga telah menunjukkan perhatian terhadap teknologi LEO milik Amazon.

Pada 17 Maret 2025, Kemkomdigi mengumumkan penjajakan kerja sama strategis dengan Amazon Kuiper, nama yang saat itu masih digunakan untuk proyek Amazon Leo. Kemkomdigi menyebut kerja sama tersebut bertujuan memperluas konektivitas digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T. (Komdigi Portal)

Menteri Komunikasi dan Digital saat itu, Meutya Hafid, menyampaikan:

“Kami menyambut baik komitmen Amazon Kuiper dalam mendukung perluasan konektivitas digital di Indonesia. Kami terbuka terhadap investasi serta teknologi baru apa pun yang dapat membantu kami untuk mencapai konektivitas di Indonesia.” (Komdigi Portal)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah membuka ruang bagi teknologi baru untuk membantu memperluas akses internet di Indonesia.

Kemkomdigi juga menyebut rencana Amazon Kuiper untuk membangun enam stasiun gateway di Indonesia dengan investasi awal sekitar US$20 juta dalam tiga hingga lima tahun pertama setelah peluncuran. Rencana investasi tersebut menurut Kemkomdigi dapat meningkat hingga US$90 juta pada 2035. Pada saat pengumuman tersebut, Amazon Kuiper juga sedang mengajukan izin operasional di Indonesia, termasuk lisensi telekomunikasi dan hak penggunaan satelit sesuai regulasi yang berlaku. (Komdigi Portal)

Karena Amazon kemudian mengganti nama Project Kuiper menjadi Amazon Leo, perkembangan yang sebelumnya pemerintah bahas dengan nama Amazon Kuiper kini perlu kita lihat sebagai bagian dari perjalanan layanan Amazon Leo.

Apa Arti Perkembangan Ini bagi Indonesia?

Masuknya teknologi Amazon Leo berpotensi memperkaya pilihan konektivitas satelit di Indonesia. Kehadiran lebih banyak penyedia teknologi LEO dapat memberikan pilihan baru bagi perusahaan, instansi, dan masyarakat yang membutuhkan koneksi internet di lokasi remote.

Namun, ketersediaan jaringan satelit secara global tidak otomatis berarti layanan komersial langsung tersedia di Indonesia. Operator tetap perlu memenuhi ketentuan regulasi, perizinan, penggunaan spektrum, infrastruktur gateway, serta berbagai persyaratan telekomunikasi yang berlaku di Indonesia.

Karena itu, calon pengguna perlu membedakan antara Amazon Leo sebagai teknologi dan jaringan satelit global dengan layanan komersial Amazon Leo yang secara resmi tersedia di suatu negara.

Bagi pengguna bisnis, faktor yang perlu diperhatikan juga tidak hanya kecepatan download. Kebutuhan bandwidth, upload, latency, IP public, SLA, dukungan teknis, integrasi VPN, keamanan jaringan, serta skema penggunaan kuota dapat menentukan apakah layanan LEO sesuai dengan kebutuhan operasional.

Amazon Leo dan Masa Depan Internet Satelit LEO

Persaingan teknologi LEO berpotensi membuat industri internet satelit semakin berkembang. Amazon memiliki ekosistem teknologi yang kuat melalui bisnis cloud, jaringan, perangkat, dan berbagai layanan digital. Kombinasi tersebut dapat memberikan peluang bagi Amazon Leo untuk berkembang lebih jauh daripada sekadar menyediakan koneksi internet.

Amazon bahkan telah mengembangkan rencana Direct-to-Device atau D2D. Pada April 2026, Amazon mengumumkan rencana akuisisi Globalstar yang akan membantu pengembangan kemampuan D2D pada generasi berikutnya dari jaringan Amazon Leo. Amazon menyebut sistem D2D tersebut akan mendukung komunikasi suara, pesan, dan data langsung ke perangkat seluler pada masa mendatang. (US Press Center)

Amazon menargetkan pengembangan sistem D2D generasi berikutnya mulai 2028. Teknologi tersebut akan melengkapi layanan broadband Amazon Leo yang menggunakan terminal khusus untuk koneksi internet. (US Press Center)

Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri LEO dapat bergerak ke arah ekosistem konektivitas yang semakin luas. Satelit tidak hanya menyediakan internet melalui terminal, tetapi juga dapat mendukung perangkat mobile, IoT, komunikasi darurat, dan berbagai kebutuhan digital lainnya.

Kesimpulan

Amazon Leo merupakan salah satu proyek internet satelit LEO terbesar yang saat ini dikembangkan Amazon. Setelah sebelumnya menggunakan nama Project Kuiper, Amazon kini mengembangkan jaringan tersebut sebagai layanan konektivitas global dengan konstelasi awal lebih dari 3.000 satelit.

Amazon menyiapkan tiga terminal utama, yaitu Leo Nano, Leo Pro, dan Leo Ultra, dengan kemampuan hingga 100 Mbps, 400 Mbps, dan 1 Gbps download. Amazon juga mengembangkan kemampuan enterprise, private networking, integrasi cloud, serta konektivitas maritime. (Amazon News)

Di Indonesia, perkembangan Amazon Leo memiliki relevansi khusus karena pemerintah sebelumnya telah menjajaki kerja sama dengan Amazon Kuiper untuk memperluas konektivitas wilayah 3T. Kemkomdigi juga menyatakan keterbukaan terhadap investasi dan teknologi baru yang dapat membantu pemerataan akses internet. (Komdigi Portal)

Dengan pembangunan konstelasi yang terus berjalan dan ekspansi ke berbagai sektor, Amazon Leo layak menjadi salah satu teknologi yang perlu diperhatikan dalam perkembangan internet satelit LEO. Bagi Indonesia, kehadirannya dapat membuka alternatif baru untuk menyediakan konektivitas di wilayah yang sulit terjangkau jaringan terrestrial.

Bagi perusahaan, korporasi, instansi, maupun pengelola lokasi remote, perkembangan Amazon Leo juga menarik untuk dipantau karena pilihan teknologi internet satelit LEO yang semakin beragam dapat memberikan lebih banyak alternatif dalam merancang jaringan komunikasi sesuai kebutuhan operasional.

LEO Satellite support layanan internet dengan nilai latency rendah

LEO Satellite mampu mentransmisikan data dalam kapasitas besar

Leosatelink support aktivasi layanan LEO Satellite di seluruh Indonesia dan Timor Leste

Technical Support 24 jam/7 hari

Service Level Agreement (SLA) 99 %

Silahkan Share :)

You cannot copy content of this page