Sekilas Starlink dan Ekspansi Starlink di Indonesia

Sekilas Starlink dan Ekspansi Starlink di Indonesia

Sekilas SpaceX dan Starlink

SpaceX adalah perusahaan antariksa swasta yang didirikan oleh pengusaha Elon Musk pada tahun 2002. Nama resmi perusahaan adalah “Space Exploration Technologies Corp.” SpaceX memiliki misi untuk mengurangi biaya akses ke luar angkasa dan membuka peluang eksplorasi luar angkasa dengan memanfaatkan teknologi inovatif dan pendekatan bisnis yang berbeda dari perusahaan antariksa tradisional. Berikut adalah beberapa informasi lebih lanjut tentang SpaceX:

  1. Pendiri : SpaceX didirikan oleh Elon Musk, yang juga dikenal sebagai pendiri Tesla dan beberapa perusahaan teknologi lainnya. Ia memiliki visi untuk membuat manusia multiplanetar dengan merancang sistem transportasi yang dapat membawa manusia ke Mars dan mengubah cara perjalanan antariksa.
  2. Tujuan Utama : Salah satu tujuan utama SpaceX adalah mengurangi biaya akses ke luar angkasa. Mereka telah mencapai ini dengan mengembangkan roket yang dapat diluncurkan ulang, seperti Falcon 9, yang dapat mendarat kembali di darat atau pada platform lepas pantai setelah misi meluncurkan muatan ke orbit.
  3. Inovasi Roket : SpaceX telah merancang dan mengembangkan beberapa roket yang inovatif, termasuk Falcon 1, Falcon 9, Falcon Heavy, dan Starship. Falcon 9 adalah roket yang paling terkenal dan sering digunakan untuk meluncurkan berbagai muatan ke orbit, termasuk satelit komunikasi, kargo stasiun luar angkasa, dan lebih banyak lagi.
  4. Proyek Starship : Starship adalah proyek ambisius yang ditujukan untuk mengembangkan sistem transportasi yang dapat membawa manusia dan kargo ke berbagai tujuan di luar angkasa, termasuk Mars. Starship diharapkan menjadi roket yang sepenuhnya dapat digunakan kembali dan memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan jarak jauh di antariksa.
  5. Program Kru dan Kargo : SpaceX memiliki kontrak dengan NASA untuk menyediakan layanan transportasi kru dan kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, International Space Station (ISS) menggunakan kapsul Crew Dragon dan kapsul Cargo Dragon.
  6. Starlink : Seperti yang sebelumnya dijelaskan, Starlink adalah proyek SpaceX untuk membentuk jaringan satelit rendah bumi yang menyediakan akses internet global.
  7. Mars Colonization : Salah satu tujuan jangka panjang Elon Musk dan SpaceX adalah untuk mendukung manusia mencapai dan menetap di Mars. Starship direncanakan sebagai kendaraan yang akan membawa manusia dan peralatan ke planet merah.

SpaceX telah mengubah cara kita memandang akses ke luar angkasa dan telah menciptakan sejumlah terobosan teknologi yang signifikan. Perusahaan ini terus bekerja pada proyek-proyek inovatif yang memiliki potensi untuk membentuk masa depan eksplorasi luar angkasa dan konektivitas global.

Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini Elon Musk terus melakukan ekspansi pasar bisnisnya ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia melalui produk Tesla dan Starlink. Starlink adalah proyek yang dikembangkan oleh perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX yang bertujuan untuk menyediakan akses internet global dengan menggunakan jaringan satelit yang beroperasi pada orbit rendah bumi, Low Earth Orbit (LEO). Saat ini Starlink sudah bisa melayani Pelanggan di Indonesia. Tetapi ijin labuh yang diberikan Kemenkominfo adalah Ijin Jaringan Tetap Tertutup (Jartup) dimana Starlink hanya berperan sebagai penyedia backhaul menggunakan satelit Non Geostasioner. Sedangkan untuk distribusi perangkat, bandwidth management, instalasi, hingga maintenance tetap melibatkan operator yang ada di Indonesia. Berikut adalah beberapa informasi yang perlu diketahui tentang Starlink :

  1. Tujuan Utama : Tujuan utama proyek Starlink adalah untuk menyediakan akses internet berkualitas tinggi di seluruh dunia, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur internet terestrial seperti kabel serat optik atau infrastruktur nirkabel (wireless) termasuk jaringan seluler.
  2. Jaringan Satelit : Starlink melibatkan peluncuran ribuan satelit mikro ke orbit rendah bumi, Low Earth Orbit (LEO) biasanya pada ketinggian sekitar 550 km hingga 570 km. Satelit-satelit ini bekerja secara sinergis membentuk jaringan yang dapat mengirimkan sinyal internet ke stasiun di darat (Hub Station) dan penerima di permukaan bumi.
  3. Low Earth Orbit (LEO) : Starlink menggunakan orbit rendah bumi (LEO) sebagai tempat satelitnya beroperasi. Ini berbeda dari orbit satelit Geostasioner yang lebih tinggi yang digunakan oleh sebagian besar satelit komunikasi tradisional pada umumnya. Keuntungan penggunaan satelit LEO antara lain pada nilai latency rendah (waktu yang diperlukan untuk sinyal pergi bolak-balik antara satelit dan pengguna) dan kapasitas lebih besar untuk mentransmisikan data melalui media satelit.
  4. Latency Rendah : Salah satu keunggulan utama Starlink adalah latency yang rendah dibandingkan dengan teknologi satelit tradisional. Hal ini sangat penting untuk aplikasi real-time seperti Streaming, Video Call, Teleconference, CCTV, dan lain-lain.
  5. Peluncuran Bertahap : SpaceX telah meluncurkan ratusan satelit Starlink dalam beberapa penerbangan roket Falcon 9 mereka. Mereka merencanakan peluncuran bertahap hingga ribuan satelit, dengan layanan internet yang tersedia secara bertahap seiring peningkatan jumlah satelit di orbit.
  6. Isu Lingkungan dan Ketenangan Antariksa : Peluncuran banyak satelit dalam jangka waktu singkat telah menimbulkan kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan dampak visual di langit malam. Satelit-satelit tersebut dapat terlihat dari permukaan bumi sebagai rangkaian cahaya yang bergerak. Hal ini menjadi salah satu akibat yang ditimbulkan oleh satelit Non Geostasioner. Tetapi operator satelit Non Geostasioner seperti SpaceX dikabarkan juga berusaha meminimalisir dampak tersebut.
  7. Regulasi dan Persetujuan: Proyek Starlink menghadapi tantangan dalam hal regulasi, koordinasi dengan organisasi antariksa internasional, dan tuntutan untuk mengurangi dampak lingkungan dan visual. SpaceX telah berkomunikasi dengan berbagai badan pengatur dan pihak-pihak terkait untuk mengatasi masalah ini.

Pasar Starlink di Indonesia

Saat ini Starlink sudah melakukan ekspansi pasar ke berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Untuk di Indonesia saat ini target pasar Starlink masih fokus pada segmen Business seperti Corporate, Pemerintahan, dan Fasilitas Layanan Masyarakat (Sekolah, Puskesmas, Rumah Sakit, Pelabuhan, Bandara, Hotel, Tempat Wisata, dan lain-lain). Tetapi tidak menutup kemungkinan ke depannya Starlink akan melakukan perluasan layanannya ke sektor Retail. Sebelum Starlink masuk di Indonesia, provider-provider internet satelit (VSAT Satellite) di Indonesia hanya bisa menggunakan satelit Geostasioner. Setelah Starlink masuk di Indonesia maka opsi satelit yang bisa digunakan oleh provider menjadi semakin bertambah. Selain itu kapasitas bandwidth yang bisa diberikan ke Pelanggan juga bisa semakin besar. Leosatelink sebagai mitra pemasaran Starlink di Indonesia bekerjasama dengan berbagai provider di Jaringan PRIMADONA Net siap membantu pelanggan yang ingin menikmati layanan internet satelit Starlink. Leosatelink siap membantu proses instalasi dan aktivasi layanan internet satelit VSAT Starlink di Indonesia hingga Timor Leste.

Sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia saat ini maka Leosatelink juga baru bisa support permintaan aktivasi layanan Starlink untuk jenis tertentu saja seperti jenis Starlink Business (Starlink Land) dan Starlink Maritime. Oleh karena itu saat ini kami belum support permintaan aktivasi untuk segmen Retail (Starlink Residence). Leosatelink siap support permintaan aktivasi layanan Starlink Business dan Starlink Maritime di seluruh Indonesia hingga Timor Leste. Tetapi Leosatelink tidak menerima permintaan aktivasi layanan internet Starlink dengan menggunakan perangkat yang bukan berasal dari Leosatelink.

Silahkan Share :)
Facebook
Twitter
LinkedIn

You cannot copy content of this page